Mengkaji Keahlian dan Keikhlasan Guru Profesional

MukhaelaniProfesionalisme pelaksana bidang Pendidikan sudah tidak bisa ditawar lagi, karena pendidikan itu sebagai salah satu bidang yang ada dan sangat diperlukan dalam kehidupan ini. Keberadaannya sangat dibutuhkan oleh warga masyarakat.  Kalau di zaman penjajahan, bahkan pada zaman awal-awal kemerdekaan, banyak warga masyarakat menempatkan pendidikan sebagai beban yang begitu berat untuk dipikul. Sehingga para perangkat desa sebagai ujung tombak pelaksanaan pemerintahan pada waktu itu harus banyak memotivasi masyarakat atau bahkan mewajibkan agar menyekolahkan anaknya. Jadi, ibaratnya untuk mendaftar sekolah guna memperoleh pendidikan mereka harus banyak di dorong oleh pemerintah.

Namun, kini pendidikan sudah banyak dirasakan oleh warga masyarakat sebagai suatu kebutuhan yang mutlak harus dipenuhi. Jadi, ibaratnya pendidikan telah diperlakukan sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan ini laksana sandang, pangan dan papan atau perumahan. Banyak di antara kita yang menempatkan pendidikan sebagai tumpuhan untuk menopang jaminan hidup di masa depan. Di sini pendidikan banyak dijadikan sebagai modal atau infestyasi sebagai pegangan hidup di masa yang akan datang. Dalam hal ini sebenarnya pernyataan demikian memang merupakan pandangan yang demikian sempit terhadap bidang atau dunia pendidikan. Karena, pendidikan merupakan bagian dari kehidupan ini yang sebenarnya demikian luas cakupannya. Yaitu bukan hanya sebagai sarana untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik saja, tetapi adalah lebih luas dari itu semua. Menurut penuturan Prof. Dr. Dandan Supratman, pendidikan adalah berperan sebagai pemandu perubahan, pengembang peradaban, pembangun citra dan kekuatan penangkal malapetaka budaya, serta pendorong peningkatan kesejahteraan.

Namun demikian keprihatinan masih banyak kita rasakan dalam dunia pendidikan kita. Kualitas adalah di antaranya. Hal itu disebabkan adanya hal-hal yang kurang tepat dalam pelaksanaan bidang pendidikan. Pengelolaan yang dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya adalah di antara penyebab yang ada terhadap merosotnya kualitas pendidikan kita selama ini. Dari segi manajerial hingga sampai para ujung tombak atau pelaksana pendidikan, masih banyak terjadi link match.

Dari segi manajerial, di tingkat Pusat di departemen hingga tingkat UPTD, seringkali juga diampu oleh orang-orang yang berlatar belakang non kependidikan. Hal itu karena bidang pendidikan seringkali ditunggangi oleh kepentingan politik, kepentingan materialistik, dan kepentingan kelompok tertentu. Kalau demikian ini yang terjadi, dan berkepanjangan, tentu keprihatinan kita dalam dunia pendidikan akan masih terus saja berlanjut.

Bentuk kesalahan yang selama ini banyak terjadi adalah ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan bidang tugasnya. Bisa dicontohkan misalnya adanya insinyur pertanian yang menjadi manajer toko, sarjana teknik sipil menjadi manjer koperasi, seorang dokter umum mengelola perikanan lele, Magister Ilmu Kehutanan menjadi Kepala Dinas Pendidikan, Sarjana Hukum menjadi Kepala MTs. Demikian juga bagi para guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan. Masih banyaknya guru yang mengampu mata pelajaran tidak sesuai dengan bidang atau latar belakang pendidikannya. Misalnya sarjana ekonomi mengajar sejarah, Sarjana Elektronika mengajar TIK, sarjana matematika mengajar olah raga dan sebagainya. Namun demikian tetap juga mennyandang predikat pendidikan profesional dengan dibuktikan dengan selembar sertifikat pendidik dengan memperolehnya lewat PLPG 10 hari. Ini sebagai gambaran akan banyaknya para lulusan lembaga pendidikan yang mengerjakan atau menggarap lahan profesi yang tidak sesuai dengan kompetensinya. Hal inilah sebagaian dari permalsahan bidang pendidikan yang perlu kita kaji bersama, yaitu tentang keahlian dan keikhlasan serta profesionalismenya.

Ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan bidang tugas tersebut seringkali berkaitan dengan kekurang-sesuaian antara hasil kerja dengan pengorbanan yang selama ini dilakukan. Sehingga penyeberangan profesi seringkali juga terjadi untuk menuntut hasil yang optimal. Di sini dapat dijadikan sebagai contoh atau bukti terntang keberadaan Lembaga pendidikan yang merupakan gelanggang juang yang banyak membutuhkan bukan hanya keikhlasan namun juga keahlian dan profesionalisme.

Pengabdian bukan hanya dapat dimodali nilai kerja yang seikhlasnya saja, namun juga perlu didukung dengan keahlian dan profesionalisme serta keikhlasan yang handal. Ini untuk menghindari kekalangkabutan bidang pendidikan kita selama ini.

Untuk mewujudkan prestasi pendidikan membutuhkan peran serta dari seluruh komponen yang terkait. Pihak masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan setelah mereka selesai dalam proses pendidikan, terutama sektor industri (dunia usaha) juga banyak diharapkan peran sertanya dalam mewujudkan hasil pendidikan yang berkualitas. Tak terkecuali para orang tua siswa  yang sebenarnya merupakan pihak yang paling berkepentingan dalam bidang pendidikan.

Sedang pemerintah sebagai penopang bidang pendidikan juga harus benar-benar bertanggungjawab atas perwujudan kualitas pendidikan. Anggaran pendidikan yang sudah diamanatkan dalam UU No. 23 / 2003, yaitu anggaran pendidikan yang harus 20 % dari APBN di tingkat nasional dan 20 % dari APBD mutlak perlu segera direalisasikan tanpa dipolitisir dengan dalih apapun.

Berbagai dalih untuk menyimpang dari ketentuan Undang-undang memang bisa juga dilakukan namun tentunya itu  harus dihindari. Hal itu mengingat pendidikan sebagai tumpuhan pengembangan budaya dan kualitas bangsa ini.  Tanpa menganggap kecil terhadap bidang lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, namun diakui atau tidak, kita selama ini telah banyak tertinggal dari Negara-negara di dunia di bidang pendidikan. Beberapa Negara tetangga seperti Malaysia dan bahkan Brunai Darussalam yang semula banyak berguru kepada Indonesia dengan mengirimkan mahasiswa dn pelajarnya untuk belajar di Indonesia, namun kini mereka justru talah lebih berprestasi di bidang pendidikan.

Kita benar-benar perlu menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan ini tapi harus sebagai hal yang penting dan perlu dikedepankan. Demikian juga dengan profesionalisme para pengelola pendidikan di negeri ini.Empat kompetensi para guru berupa paedagogig, kepribadian, sosial, dan profesional harus benar-benar melekat dalam kehidupan para ujung tombak pelaksana pendidikan yaitu para guru.   Sedapat mungkin kita tidak lagi menggunakan bidang pendidikan sebagai sarana atau media bahkan kendaraan untuk keperluan bidang lainnya, misalnya  adalah ekonomi dan politik, tapi perlu menempatkan pendidikan dengan ikhlas untuk kemajuan bangsa dan negara ***.

 

Artikel ditulis oleh : Mukhaelani, S.Pd (Kepala SMP N 2 Kedungjati)

 

 

 

 Print  Email