Bantuan Siswa Miskin Harus Diterima Utuh, Tidak Boleh Dipotong

DasukiPemerintah telah memberi perhatian serius bagi dunia pendidikan termasuk sarana prasarana sekolah, kesejahteraan para guru sampai pada perhatian terhadap peserta didik atau siswa, oleh karenanya dengan perhatian itu termasuk dalam hal ini pemberian bantuan, yang diperuntukkan bagi siswa miskin (BSM) jangan sampai ada pemotongan dengan alasan apapun, itu hak mereka” tandas Asisten 2 Setda Grobogan kepada Gema Bersemi beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Dasuki menambahkan, siswa miskin perlu diberi kesempatan untuk sekolah. Karena siswa miskin juga merupakan anak bangsa dan punya hak untuk mengenyam pendidikan seperti siswa yang lain, apalagi pemerintah saat ini tengah berupaya agar anak usia sekolah wajib sekolah jangan sampai putus sekolah. Karena itu perlu adanya kepedulian dan peran para guru, kepala sekolah, UPTD Pendidikan, orang tua, masyarakat dan stakeholder untuk wajib mendukung program pemerintah ini serta ikut mengawasi aliran bantuan BSM (Bantuan Siswa Miskin) yang telah diterimakan beberapa waktu lalu, agar uang bantuan itu benar-benar dapat tersalurkan ke anak didik/siswa secara utuh sesuai prosedur.

Ketika ditanya adanya rumor mengenai pemotongan BSM, Dasuki mengatakan pihaknya akan melakukan klarifikasi dulu,

“Mudah-mudahan rumor itu tidak benar, seandainya itu ada dan terbukti serta ada pengakuan dari siswa/orang tua wali murid, ini bisa menjadi temuan kasus hukum.Sebab jenis bantuan apapun namanya apalagi ini bantuan untuk siswa miskin, pemotongan atau penerimaan tidak utuh adalah bentuk pelanggaran/larangan,” jelasnya.

Sebagai Asisten yang membidangi masalah pendidikan, pihaknya menghimbau kepada semua pihak termasuk kepala sekolah agar jangan main-main dengan bantuan untuk siswa miskin ini. Karena banyak kasus yang terjadi terkait dengan bantuan untuk orang miskin, seperti pemotongan BLT/BLSM hingga Beras Raskin ada yang berujung ke proses hukum.

“Apalagi ini bantuan untuk siswa miskin, bisa beresiko bagi kepala sekolah yang memotong dengan alasan ditabung, untuk nyumbang sekolah bikin pasang pagar, pasang paving dan sebagainya.Ini jelas tidak boleh, prinsipnya bantuan itu tetap harus utuh sesuai keperuntukannya. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya dari kasus-kasus tadi, sekali lagi itu beresiko,” tandas Dasuki dengan serius.

Dasuki menyarankan agar pihak terkait untuk mengikuti petunjuk yang ada dalam penyaluran BSM, dan menunjukkan peranan masing – masing selaku abdi negara.

“Ikuti saja petunjuk yang ada dalam penyaluran BSM. Bukankah hal ini merupakan bagian dari bentuk kepedulian dan pengabdian kita.Apalagi mereka ini adalah siswa kita yang miskin/anak didik kita sendiri yang perlu kita bantu dan kita perjuangkan agar jangan sampai putus sekolah.Dan memperjuangkan mereka untuk mendapatkan bantuan juga bagian dari ibadah”, ungkapnya.

 

 Print  Email